September 21, 2010

Day#17 (Klasik)

Sudah lama tidak menyapa matahari. Meski langit sudah beranjak sore, tapi pepatah pernah bilang kalo "tidak ada yang terlambat di dunia ini".

Pernyataan itu memang kadang benar dan kadang salah. Tapi semua kembali lagi kepada Yang Maha Kuasa, eh, bukan deh, kembali lagi kepada yang menanggapinya.

Dengan Honda CB, aku mengitari Jakarta sore dengan perlahan. Waah.. indahnya.

Di tahun 70-an gini Jakarta memang lagi indah-indahnya. Belum begitu banyak kendaraan dan juga asap knalpot. Bangunan-bangunan juga masih sedikit dan belum terlampau tinggi.

Tidak seperti di tahun 2010 yang akan datang. Semua berubah. Jakarta sudah menjadi hutan beton. Dimana-mana gedung menjulang. Volume kendaraan juga membludak. Timbulah macet. Klakson seperti menjadi lagu di awal dan akhir matahari, bahkan sampai langit gelap.

Dibalut dengan jaket jeans kusang, aku dan si Merah(begitu aku biasa memanggilnya) mengitari Jakarta. Jalanan ibukota ini masih terlihat lebar. Aku pun melenggang bebas di jalanan. Angin sore Jakarta sepoi-sepoi membasuh wajah ini. Wanita-wanita cantik berpakaian vintage terlihat dimana-mana, menarik. Wajah mereka masih terlihat malu-malu khas tahun 70-an.

Tidak seperti di tahun 2010 yang akan datang, wanita selalu ingin terlihat seksi dengan pakaian minim. Entah karena kurang bahan, atau karena gengsi dengan sebuah trend.

Di lampu merah tepat samping taman kota, terlihat sepasang muda-mudi terduduk di bangku taman. Mungkin mereka berpacaran atau entah apa lah. Romantis. Khas tahun 70-an. Manis. Penuh canda dan tawa.

Tidak seperti di tahun 2010 yang akan datang. Pria dan wanita yang berpacaran kadang sering memperlihatkan kemesraan yang berlebih secara terang-terangan di depan umum. Sekalinya gelap-gelapan, mereka malah berbuat lebih secara berlebih.

Aku pun masih menancap si Merah dengan santai. Langit terlihat mendung. Sepertinya akan hujan. Dan benar saja perkiraan ku. Tidak lama kemudian hujan perlahan membasahi ibukota. Aku sedikit kelabakan mencari tempat untuk meneduh. Dan setelah celingak-celinguk, akhirnya aku tepikan si Merah di halte bus pinggir jalan.

Di halte ini tidak begitu ramai orang. Mungkin karena halte ini juga jarang terpakai, atau sedikitnya bus yang melewati halte ini.

Hanya ada bapak tua dengan kemeja putih dan celana bahannya yang sepertinya terlihat kalau ia baru saja pulang kerja. Ada juga 2 ibu-ibu yang berpakain seragam ala PNS, mungkin ia juga baru pulang kerja.

Kuambil bungkus rokok dari kantongku dan kunyalakan. Hembusan pertama dan ke-2 terasa nikmat. Dan... waouw!! Siapa itu?? Seorang gadis berambut panjang sebahu, dengan kemeja yang dibalut blezer coklat, rok bahan selutut, sepatu hitam, dan membawa tas coklat yang diapit diantara ketiaknya.

Seperti magnet yang menarik besi disekitarnya dengan cepat, dia pun menarik mata ku untuk memperhatikannya lebih lama. Hingga timbul keinginan untuk mengenalnya. Aku pun mendekatinya. Dengan sedikit berbasa-basi sampai akhirnya tahu namanya.

Dia sangat ramah. Kita mengobrol apa saja dan tentang apa saja hingga tak terasa hujan telah reda. Bapak tua dan ibu-ibu tadi sudah tak terlihat. Hanya kita ber-2 tersisa di halte itu.

Lalu aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Ia pun mengangguk dan tersenyum manis. Alangkah indahnya sore ini kata ku dalam hati. Lalu kami beranjak pergi dan meninggalkan halte itu yang terlihat kembali sepi. Entah untuk keberapa kali.

5 komentar:

  1. Nice. Pasti yg naik motor namanya "Anton" klo khas taun 70an ... hehehe ...

    BalasHapus
  2. posting yang cantik. ;)
    bener juga yang kata kak sundea, kalo ngga Johan.
    hehe.

    BalasHapus
  3. waow!! ternyata kalian angkatan 70-an semua yaa.. :P

    BalasHapus
  4. Iya, angkatan 70-an. Kenalin, Gil, saya Yessy Gusman ...

    BalasHapus